Ambar 'Polah' TjahyonoThe Reborn of Jogjaness Composer
Posted by pabrikbunyi on October 17, 2008
Ambar Polah is a Jogjaness composer, popular in that city in early 1980. He has ever contributed three songs for album Ya Robbi by Gita Sahara Musik Muslim Universitas Islam Indonesia (Perwira record, 1983). In 1982/1983, his song entitled Yogyakarta became one of 10 best songs compiled under the title 10 lagu Terbaik Hasil Lomba Cipta Senandung Yogyakarta. (Irama Mas record, 1982-1983). These two albums are likely to be collected, because those are crafted seriously although not succes commercially.
Finally, Ambar Polah comes back in front of Jogjaness audience. On October 4, 2008, he played music with his band Pressiden Band in the park of JogjaTV, for celebrating Jogja anniversary. “This is my first appearance after 10 years disbanding,” Ambar Polah said in the television. He said also that he will release an album entitled Satu Bendera this coming January 2009. I appreciate Ambar Polah as some one who has ever give a creative atmosphere in Jogja city, my birth place. *
Mantan Pengamen Kibarkan ’Satu Bendera’
11/10/2008 08:54:36
AMBAR Polah, lebih suntuk menggeluti dunia usaha furniture dan aktif di Asmindo. Wajar ia tak sempat bermusik ria karena waktunya tersita untuk mengurusi usaha furniture dan memajukan Asmindo. Terlebih, hampir 2 tahun dia sebagai memimpin Asmindo pusat. Namun kesuksesan menjalankan usaha furniture dan menjadi nahkoda Asmindo, sebagai seniman musik selalu membara dan tetap kegelisahan berkarya lewat musik. Sejak masih duduk di bangku SMA Bopkri I Yogyakarta tahun 1977 sudah membentuk kelompok musik bersama teman-teman. Bahkan lulus SMA kelompok musik ini masih aktif tampil dan eksis. Waktu itu, kelompok musik masih menggunakan alat musik sederhana gitar, biola, flute, seksofon ala musik akustikan. Lagu-lagu yang dibawakan karya sendiri berpihak pada rakyat dan kritik sosial. Masa usia muda pertengahan 1980-an hidupnya dihabiskan untuk bermusik. Ia nongkrong ‘ngamen’ bersama kelompok musiknya dan bergaul dengan para komunitas pemusik di Malioboro. Maklum ekonomi Ambar Polah saat itu pas-pasan. Kalau kini, ia kembali aktif bermusik ria, tetap menggandeng sejumlah pemusik Malioboro berproses membuat album berlabel ‘Satu Bendera’ dengan Pressiden Band. Beberapa tahun terakhir ini, di sela kesibukan bersama pemusik Yogya dan komunitas ‘Tratag Budaya Estetik’ membuat aktivitas kesenian terutama musik. Bahkan mampu merampungkan album ‘Satu Bendera’ berisi 7 lagu. Dari 7 lagu yang dijadikan lagu andalan ‘Satu Bendera’. Lagu lainnya berjudul ‘Perubahan’, ‘Susah Cari Presiden’, ‘Mentari’, ‘Kong Kalikong’, ‘Pacarku Doyan Duit’ dan ‘Rindu’. “Album Satu Bendera selain ikut meramaikan kancah dunia musik di Indonesia, bisa ikut mengingatkan dan menanamkan cinta tanah air. Meski sekarang bermunculan bendera partai politik, namun tetap di bawah satu bendera ‘Merah Putih’. Tentu saja, ada lagu-lagu tentang kritik sosial,” kata Ambar Polah. (Cil)-g

Seruan Moral Lewat Karya Musik Satu Bendera
Senin, 13 Oktober 2008 | 10:56 WIB
Perubahan dinanti-nanti Hingga sampai menunggu mati Perubahan tak kan terjadi Harus dari diri sendiri Itulah sepenggal lirik lagu bertajuk Perubahan karya Ambar Polah Tjahyono yang dinyanyikan Pressiden Band dalam Konser Musik Satu Bendera, Sabtu (11/10) malam di halaman Jogja TV, Yogyakarta.
Sesuai judulnya, lagu ini membawa pesan bahwa perubahan hanya akan terjadi jika setiap orang ikut berupaya mewujudkannya. Menurut Ambar, mantan seniman jalanan Malioboro yang belakangan lebih dikenal sebagai Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia, lagu ini muncul dalam konteks kehidupan rakyat Indonesia yang tak kunjung membaik meski sudah ada sekian presiden dan pejabat negara lain yang bergantian memimpin.
Kita pernah punya Presiden Megawati yang (katanya) pro rakyat, kita pernah punya Presiden Gus Dur yang ahli agama. Tapi, perubahan tak kunjung terjadi. Siapa pun presidennya, perubahan tidak akan terjadi jika kita tidak ikut membantu, katanya kepada wartawan sebelum konser. Selain nomor Perubahan, dalam konser yang ditayangkan secara langsung di Jogja TV itu, Ambar bersama Pressiden Band menyanyikan enam lagu lain yang bernuansa kritik sosial seperti Susah Cari Presiden, Kong Kalikong, Pacarku Doyan Duit, dan sebagainya.
Lagu-lagu karya Ambar itu juga telah direkam dalam bentuk CD audio bertajuk Satu Bendera yang saat ini masih tersebar untuk kalangan sendiri. Satu Bendara merupakan lagu andalan dalam album rekaman tersebut. Rencananya lagu-lagu tersebut direkam lewat jalur mayor label sehingga bisa menyebar lebih luas. Menurut Ambar, konser musik malam itu digelar untuk merespons situasi sosial politik menjelang pemilihan umum.
Dengan sistem multipartai, anak bangsa terpecah-pecah menjadi banyak kubu. Satu sama lain kerap kali saling melukai dan menjatuhkan. Dalam suasana seperti itu, rakyat hanya menjadi obyek yang diperebutkan untuk kemudian dilupakan pascapemilu. Agus Dayak yang terlibat dalam manajemen konser tersebut menambahkan, lewat lagu-lagu yang dinyanyikan, mereka ingin menyampaikan kritik sosial tanpa menyalahkan siapa pun. Musik merupakan media membangun opini.
Kami hanya ingin mengingatkan, katanya. Malam itu, Ambar yang berkolaborasi dengan Pressiden Band menyanyikan lagu-lagu itu dengan tempo cepat dan mengentak-entak. Puncaknya ada di lagu Satu Bendera. Mereka mengajak seluruh anak bangsa untuk terus mengingat bahwa perbedaan suku, agama, juga ideologi politik tidak boleh memisahkan dalam kubu-kubu yang saling berlawanan.
Menjelang pemilu, dengan 38 partai politik yang bersaing memperebutkan suara rakyat, mereka mengaku ingin menyebarkan virus Satu Bendera.
Inilah seruan mereka: Bendera-bendera kita Makin banyak warnanya Jangan lupa satu bendera Merah Putih tercinta.Oleh Idha Saraswati